Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 24 Oktober 2012

Hakekat Manusia

Entah mengapa ingatan saya tiba-tiba tertuju pada pertanyaan teman sekelas pada kuliah perdana Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian yang dibawakan oleh Pak Gunawan. Teman saya bertanya “Apakah manusia itu tersandra oleh kebiasaan?”. Berbagai jawaban muncul pada kuliah tersebut termasuk dari pak dosen sendiri. Sebagian besar mengiyakan bahwa manusia itu tersandara oleh kebiasaan. Pada saat itu saya berada pada posisi tidak sepakat dengan pernyataan apakah manusia tersandra pada kebiasaan tersebut dengan mengacu pada perdebatan antara kaum determinisme dan free will. Saat itu saya menganggap bahwa pernyataan manusia tersandra oleh kebiasaan adalah sama dengan pemahaman kaum determinisme bahwa segala sesuatu sudah teratur dan manusia hanya bergerak sesuai aturan-aturan itu. Saya yang meyakini bahwa manusia itu punya kehendak bebas pastinya tidak sepakat dengan pernyataan itu.
Setelah perkuliahan selesai tanpa menghasilkan jawaban yang jelas, pertanyaan itu kemudian saya bawa pulang dan untuk beberapa saat saya an apakah benar manusia itu tersandra oleh kebiasaan. Perenungan itu kemudian menuntun saya pada pertanyaan seputar hakekat kemanusiaan yang pada kuliah perdana Filsafat Ilmu itu juga di bahas meskipun tidak tuntas. Apa perbedaan manusia dengan binatang?
Hampir semua yang ditanya persoalan ini akan menjawab perbedaanya terletak pada akal yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh hewan. Manusia memiliki akal yang dengan itu mampu menghasilkan cipta, karya dan karsa (inipun juga dibahas dalam kuliah tadi). Terkait dengan kemampuan mencipta dan berkarya, saya jadi teringat beberapa bulan silam waktu saya menjadi Anggota Dewan Kehormatan Penerimaan Anggota Baru Racana Hasanuddin. Pada kegiatan penghadapan dewan kehormatan yang bertugas menguji kemampuan calon anggota untuk bisa diterima sebagai anggota, saya ditempatkan pada pos pengetahuan umum.
Pertanyaan awak yang saya berikan kepada calon peserta adalah “apa perbedaan antara manusia dengan binatang?” Jawaban yang diberikan beragam, mulai dari jawaban yang simpel sampai yang rumit. Yang simpel menjawab perbedaannya yaitu manusia bisa bikin pisang goreng sedangkan hewan tidak bisa. Sekedar menguji kedalaman pemahamannya saya bertanya lebih lanjut “jadi kalau ada manusia yang tidak bisa bikin pisang goreng berarti bukan manusia?”. Semua yang memberi jawaban tapi akhirnya berpikir ulang dan tidak menemukan jawaban selanjutnya.
Jika diranungkan lebih dalam, sepenggal jawaban simpel tadi sebenarnya mengandung inti dari hakekah kemanusiaan sebagaimana dijelaskan diatas, yaitu mampu mencipta dan berkarya. Kata “manusia bisa bikin pisang goreng” itu sebenarnya mengandung identitas kemanusiaan yang diterjemahkan dalam bahasa partikular. Bahasa universalnya adalah manusia “bisa membuat sesuatu”. Kata “bisa membuat” disini berorientasi pada “potensi berkreasi” sedangkan “sesuatu” berorientasi pada “sesuatu yang baru”. Jadi jika pertanyaannya “Kalau ada manusia yang tidak bisa bikin pisang goreng, apakah berarti dia bukan manusia? Jawabannya iya, dia bukan manusia. Mari kita garis bawahi kata “tidak bisa bikin” pada pertanyaan tersebut. Jika kita merujuk pada orientasi kata “bisa” yang berarti potensi berkreasi, maka kata “tidak bisa bikin” dapat juga diartikan “tidak punya potensi berkreasi” dan itu bertentangan dengan hakekat kemanusiaan. Manusia bukannya tidak bisa bikin pisang goreng melainkan hanya belum tau caranya dan belum mau belajar membuat pisang goreng.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika dibandingkan dengan binatang yang bisa membuat sarang? Apakah bisa juga digolongkan sebagai manusia? Ataukan pernyataan itu justru menggugurkan hakekat kemanusiaan karena ternyata binatang juga bisa membuat sesuatu. Untuk menjawabnya, kita kembali pada orientasi kemanusiaan pada kata “bisa membuat” dan “sesuatu”. Pada manusia, sebagaimana diungkapkan diatas, kata bisa membuat berorientasi pada pemahaman memiliki potensi berkreasi sedangkan pada binatang berorientasi sebagaimana secara harfiah yaitu bisa membuat. Pada kata “sesuatu”, untuk manusia, berorientasi pemahaman sesuatu yang baru sedangkan pada binatang berarti sesuatu sebagaimana biasanya.
Kreasi  berarti menghasilkan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya atau memodivikasi sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Potensi inilah yang dimiliki manusia. Binatang tidak memiliki daya kreasi sehingga hanya melakukan sesuatu sebagaimana kebiasaanya. Itulah yang membuat sarang dan pisang goreng menjadi pembeda binatang dan manusia. Sarang yang dibuat oleh binatang dari dulu sampai sekarang masih saja seperti itu sedangkan pisang goreng dibuat oleh manusia dari olahan pisang yang bisa sangat beragam cara yaitu dibakar, digoreng, direbus dibuat kripik dll. Pisang goreng saja sudah beragam campuran, mulai dari pisang goreng keju, coklat, dll yang pastinya akan terus menjadi sesuatu yang baru.
Kembali ke diskusi awal, apakah manusia tersandra oleh kebiasaan? Jawabannya tentu tidak. Hakekat manusia salah satunya adalah potensi untuk berkreasi yang dengan itu membuatnya keluar dari kebiasaan. Jika manusia tersandra oleh kebiasaan maka tidak akan ada kreasi-kreasi baru yang lahir didunia ini. Jika manusia tersandra oleh kebiasaan maka manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Asumsi ini menolak pandangan circular reasoning yang menempatkan cara berpikir manusia pada satu lingkaran yang berulang-ulang. Lebih dari itu, cara berpikir manusia itu seperti bola salju yang menggelinding, sedikit demi sedikit membesar, bukannya seperti bola kasti yang menggelinding tanpa berubah besar lingkarannya. Manusia selalu mendapat pengetahuan baru yang bisa menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian diperkaya dengan pengetahuan-pengetahuan yang lebih baru, atau bisa jadi pengetahuan baru tersebut merubah kebiasaan lama. Namun berubahnya kebiasaan tidak lantas menghilangkan kebiasaan lama dari pengetahuan manusia, melainkan menjadikannya bahan baku dalam menelaah kebiasaan barunya.
Wallahuallam bishawab.


Catatan Ngawur [minggu 21 Okt. 12]

Kamis, 07 Juni 2012

BELAJAR MENULIS_2

Makassar,28 April 2012, pukul 19.15

Seri kedua rekomendasi buku “Daripada Bete, Nulis Aja” halaman 38-40 dimaksudkan untuk melahirkan kreativitas dengan menulis bebas. Metode yang digunakan yaitu dengan focus menulis dalam jangka waktu tertentu  tanpa henti dengan menulis apa saja yang muncul dalam pikiran tentang sebuah tema atau topik. Sesekali jika terjadi kebuntuan atau tidak ada inspirasi untuk melanjutkan suatu kalimat maka disarankan untuk menulis tidak terpikir.. tidak terpikir.. tidak terpikir.. secara berulang-ulang sampai terdapat inspirasi baru. Usahakan tulisanmu tidak terputus, terus gerakkan tanganmu dan tulis apa saja. Topik yang akan ditulis bebas tergantung apa yang ada dipikiran kita, yang terpenting adalah menggerakkan pena bagi yang menulis manual atau menggerakkan jari jemari bagi yang menggunakan komputer.
Topik yang di contohkan dalam buku tersebut bagi yang sulit menentukan topic yaitu:
·         Apa yang kamu lihat hari ini? (Atau tidak kamu lihat hari ini)
·         Jika kamu punya saudara kembar, akan seperti apakah dia? (dan jika kamu punya saudara kembar, tulis seperti apa rasanya jika hanya satu-atau tiga orang bersamaan- yang terlahir?)
·         Kemana kamu akan pergi jika dapat bepergian kemana saja? Apa yang kamu lakukan disana?
Dari ketiga topik di atas, saya lebih tertarik memilih topik ketiga. Berikut ulasannya:
***
“Jika Aku Dapat Pergi Kemana Saja”
Jika aku dapat pergi kemana saja seperti pada film doraemon dan jumper maka saya akan ke… tidak terpikir.. tidak terpikir… tidak terpikir…  Disana saya akan melakukan.. tidak terpikir… tidak terpikir… Jika saya punya mesin waktunya doraemon maka saya akan pergi ke zaman purba untuk tau apa betul nabi adam itu manusia purba, saya juga akan ke zamannya Rasulullah Muhammad SAW untuk melihat tingkah lakunya beliau sehingga tidak akan ada lagi pertengkaran diantara pengikutnya.
Tapi semua itu hanyalah khayalan, dalam kehidupan nyata aku tak akan kemana-mana, aku hanya ingin terus berada disisimu..
***
Lebih lanjut dikatakan dalam buku ini, salah satu manfaat menulis bebas adalah kata-kata tampak nyata pada halaman walaupun hanya sepotong-sepotong tapi toh ternyata kita telah menghasilkan sesuatu. Langkah selanjutnya adalah memperluas tulisan bebas dan membantunya mengambil bentuk (Bagai menanbahkan air ke busa spons). Ada beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain barainstorming (curah gagasan), clustering (Pengelompokan) dan terakhir seleksi.

Brainstorming
Curah gagasan berarti membuat gagasan baru yang muncul dari tulisan tulisan kita sebelumnya.
Contoh:
Kalimat-kalimat:
-          Doraemon
-          Jumper
-          Zaman purba
-          Berada disisimu
Gagasan Baru:
-          Teknologi
-          Film
-          Zaman prasejarah
-          Charles Darwin
-          Tempat meyenangkan
Ide-ide baru ini dapat membatu dalam mengembangkan tulisan-tulisan yang akan ditambahkan kedalam tulisan sebelumnya.
Clustering
Yaitu mengembangkan tulisan dengan membuat percabangan ke berbagai arah. Untuk pengelompokan, dipilih ide utama dan dilingkari di tengah halaman baru. Selanjutnya catata semua kata yang terkait dan hubungkan dengan garis.
Contoh:


Seleksi
Yaitu mengelompokkan yang serupa dengan yang seupa, contoh:
Yang bias kemana saja
-          Jumper
-          Teknologi Doraemon dengan pintu ajaib dan mesin waktu
Kemana saja dalam dimensi waktu saya akan ke:
-          Zaman Purba
-          Zaman Nabi
Kemana saja dalam dimensi ruang:
-          Kaki gunung untuk mendaki
-          Menjadi chamber, loser atu climber
Dengan metode-metode diatas, kita telah memiliki banyak pemicu gagasan untuk ditulis.
Berikut penyempurnaan tulisan sebelumnya dengan menggunakan rekonmendasi metode diatas:

***
Jika Aku Dapat Kemana Saja
Pernyataan yang unik dan pastinya akan mengantarkan saya pada khayalan, entah itu tingkat tinggi seperti yang dikatakan Ariel Peterpan atau hanya hayalan kekanak-kanakan. Dapat kemana saja mengasosiasikan ingatan saya pada film fiksi ilmiah “Doraemon”. Kucing robot yang berasal dari abad ke XXI yang mempunya teknologi yang sangat canggih sehingga dapat mempermudah kehidupan. Film ini menarik karena setting yang digunakan adalah Jepang di Abad ke XX tetapi masih diputar sampai sekarang yang sudah berada di abad ke XXI. Uniknya karena ternyata banyak diantara teknologi yang di tampilkan pada film itu ada yang terbukti dan jauh lebih banyak yang tidak terbukti.
Yang terbukti dari teknologi doraemon tidak secara gamblang seperti yang terdapat pada filmnya tetapi dengan prinsip yang sama. Baling-baling bamboo yang merupakan alat transportasi personal yang paling sering digunakan oleh tokoh-tokoh dalam film kartun tersebut mempunyai prinsip yang sama dengan helicopter yang lazim kita lihat. Adapun yang belum terbukti salah satunya yaitu pintu kemana saja dan mesin waktu yang sekarang menjadi topic dalam tulisan ini. Dengan memiliki  kedua alat itu, kita dapat pergi kemana saja dalam dimensi ruang dan waktu. Pintu ajaib dapat membawa kita ke tempat mana saja di dunia ini sedangkan mesin waktu dapat membawa kita ke semua masa dalam skala waktu.
Salah satu film yang lain yang terasosiasi dalam pikiran sehubungan dengan kata “Pergi Kemana Saja” yaitu film berjudul “Jumper”. Di ceritakan beberapa orang dengan kemampuan khusus dapat melompat melintasi suatu dimensi ruang ke ruang yang lain. Hanya dengan kedipan mata, ia dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Tokoh utama dari film tersebut diskenariokan menjadi kaya tanpa pernah bekerja bahkan untuk sekedar membuka pintu. Jelas karena ia dapat tiba-tiba berada di dalam ruang penimpanan uang tanpa diketahui penjaga. Kemampuan yang di salah gunakan untuk mencuri.
Jika tadi otak mengasosiasikan kata tersebut dengan objek lain, maka sekarang waktunya berimajinasi jika teknologi atau kemampuan tersebut menjadi milikku. Disini saya tidak akan mengulasnya berdasarkan item teknologi atau kemampuan supra natural melainkan akan diulas berdasarkan prinsipnya yaitu dapat pergi ke tempat dan masa apa saja.
Maka mulailah saya berandai andai dalam dimensi waktu. Jika seandainya saya dapat ke masa apa saja maka masa pertama yang akan saya datangi adalah zaman prasejarah untuk mencari tau apakah benar teori “Charles Darwin” yang disimpulkan oleh kebanyakan orang dengan dalil bahwa “Manusia berasal dari kera”. Asumsi tersebut melahirkan banyak spekulasi diantaranya pernyataan “Ternyata Adam Dilahirkan”. Berada di zaman prasejarah akan mengkonfirmasi pernyataan-pernyataan atau spekulasi-spekulasi tersebut.
Masih dalam dimensi waktu, masa lain yang akan saya datangi adalah abad keenam-masa dimana Rasulullah Muhammad SAW hidup. Berada dalam zaman yang sama dengan Rasulullah, menjadi sahabat Rasulullah dan menjadi saksi hidupnya akan menjadwab semua pertentangan-pertentangan diantara berbagai aliran dalam Agama Islam. Pertentangan yang tak hanya dalam tataran perdebatan melainkan telah sampai konflik terbuka, perang saudara. Pertentangan yang akar masalahnnya hanya perbedaan informasi dan perbedaan penafsiran terhadap informasi tentang perilaku Rasulullah, baik dalam urusan ibadah maupun urusan dunia.
Dalam dimensi ruang, jika pergi kemana saja itu dimungkinkan, maka tempat yang menarik untuk saya kunjungi yaitu semua kaki gunung tetinggi di Indonesia. Dari tempat itu saya akan mulai mendaki ke puncaknya. Mungkin muncul pertanyan mengapa tidak sekalian saja langsung ke puncak gunung, mengapa hanya sampai di kaki gunung terus kemudian repot-repot mendaki gunung? Jawabannya, berada dipuncak gunung hanyalah hadiah dari proses panjang mendaki gunung. Yang terpenting bukanlah menaklukkan gunung melainkan menaklukkan diri sendiri. Medaki gunung bukan untuk mencapai puncaknya dan berfoto narsis. Medaki gunung membutuhkan tekad yang kuat disesrtai konsistensi untuk menembus batas yang kita buat sendiri. Itulah kenapa dalam motivasi diri dikenal istilah, chamber, loser dan climber.
Dalam meraih suatu impian pasti aka nada halangan dan rintangan. Kondisi inilah yang dianalogikan sebagai proses mendaki gunung. Chamber adalah tipe orang yang ketika melihat puncak gunung yang begitu tinggi, nyalinya langsung menciut dan menyatakan dirinya tak sanggup. Loser adalah tipe orang yang sementara mendaki gunung tetapi menyerah ditengah jalan. Sedangkan Climber adalah tipe orang yang berhasil menaklukkan gunung hingga mencapai puncaknya. Itulah mengapa kaki gunung menjadi tempat yang paling ingin saya kunjungi. Berada di kaki gunung dan melihat puncak gunung berarti menantang diri dan keyakinan untuk mundur, maju setengah jalan atau menaklukkan gunung.
Begitulah khayalan-khayalan kekanak-kanakan yang muncul dalam pikiran saya menanggapi penggalan kata “Jika Aku Dapat Kemana Saja”. Khayalan yang hamper pasti tidak dapat terealisasikan. Khayalan yang tidak dibarengi kemampuan untuk merealisasikannya. Karena ruang dan waktu hanya milik-Nya dan kita hanya mengisi ruang dan waktu yang diciptakannya untuk kita.
Mengakhiri tulisan ini, saya tuliskan dengan sepenuh hati sebuah kahayalan tinggkat tinggi. Hayalan yang berada satu disisi mata uang dengan realitas  disisi lainnya. Karena Tuhan menambatkan satu hati kehati lainnya tentu tetap dengan sebebas-bebasnya kehendak kita untuk mengaminkannya.
Jika aku dapat kemana saja
aku hanya ingin berada disisimu
menjadi penghuni hatimu yang kekal
Jika aku dapat melitasi dimensi waktu
Aku akan menyerahkan masa lalu, masa sekarang dan masa depanku
Hanya kepadamu, bersamamu dalam keabadian
Jikapun harus terpisah
hanya keabadian pula yang memisahkan kita

***



Sabtu, 28 April 2012

Belajar Menulis 1

Makassar, Rabu, 25 April 2012, pukul 19.27
  
BELAJAR MENULIS

Tulisan ini merupakan tulisan awal dari proses belajar menulis yang mengikuti rekomendasi penulisan dari buku “daripada bĂȘte, nulis aja!” karya Caryn Mirriam-Golberg, Ph.D halaman 33-34. Isi tulisan merupakan jawaban dari beberapa pertanyan yang diajukan dalam buku ini sebagai pintu masuk menuju langkah pertama menulis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk menuntun penulisan yaitu:
-          Mengapa kamu ingin menulis?
-          Apakah kamu menganggap dirimu penulis? Mengapa ya, mengapa tidak?
-          Mengapa menulis itu penting?
-          Manfaat apa yang kamu dapatkan dan kamu harapkan dari menulis?
-          Apa yang kamu dapatkan dari menulis? Apa yang telah dilakukannya untukmu?
-          Apa yang paling ingin kamu tulis?

Saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut tidak dengan merunut satu-persatu pertanyaan tetapi langsung membuatnya dalam sebuah tulisan secara acak. Maksudnya, setiap pertanyaan yang jawabanyannya hampir sama akan dijawab sekaligus meskipun itu tidak berurutan.
***
Saya ingin belajar menulis karena menulis merupakan investasi jangka panjang. Maksudnya adalah dengan menulis kita bisa memperpanjang usia bahkan melampaui masa hidup kita. Seperti tokoh-tokoh yang hidup di zaman yunani kuno ribuan tahun sebelum masehi misalnya Plato, Aristoteles, Socrates dll; pemikiran mereka masih hidup dan mewarnai zaman kita. Dengan kata lain, menulis merupakan gerbang menuju keabadian.
Begitu pentingnya tulisan sehingga menjadi penanda antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah. Zaman prasejarah merupakan zaman dimana manusia belum mengenal tulisan sedangkan zaman sejarah berlangsung saat manusia mulai mengenal tulisan dan menulis sejarahnya. Selanjutnya sejarah merekam perkembangan dari masa ke masa sehingga manusia tidak lagi perlu mencari dari awal tentang sebuah ilmu atau sekedar pengetahuan. Kita tidak lagi perlu mencari tau bagaimana cara membuat lampu karena telah ada tulisan dari Thomas Alfa Edison mengenai penemuannya tersebut sehingga kita tinggal mengembangkan lampu itu menjadi sesuatu yang baru.
Sepenggal ulasan diatas jelas menunjukkan bahwa saya belum dapat digolongkan sebagai seorang penulis profesional. Seorang pembaca awam pun pasti dengan mudahnya mengiyakan bahwa tulisan diatas masih lebih tepat digolongkan sebagai celotehan belaka tanpa memberikan pengetahuan baru yang berarti bagi pembaca. Namun demikian, kesepakatan dari pembaca tidak lantas menjadi penghalang tapi justru menjadi penyemangat untuk terus belajar menulis. Karena bahkan messi pun tidak langsung terlahir sebagai pemain terbaik dunia tetapi terlebih dahulu jatuh bangun luka-luka belajar lika liku menendang bola. Sebagaimana halnya karya besar sekelas La Galigo atau Mahabrata pun diawali dari sebuah titik yang dalam kondisi tertentu hanya dianggap tak lebih dari noda.
Kemampuan menulis khususnya tulisan ilmiah sering diidentikkan dengan penggunaan kedua belahan otak. Menulis merupakan penggabungan antara berpikir logis yang merupakan domain otak kiri dengan berkreasi yang merupakan domain otak kanan. Dengan demikian, berlatih menulis secara tidak langsung juga melatih perkembangan otak kiri dan otak kanan sekaligus juga koordinasi diantara kedua belahan otak tersebut. Menulis merupakan proses merangkai pengetahuan yang sudah ada dalam memori menjadi sebuah kreasi kata dalam bentuk tertulis. Kualitas sebuah tulisan ditentukan oleh kualitas pengetahuan yang akan dirangkaikan. Bermimpi, berharap atau bercita-cita menjadi penulis professional berarti bersedia mengawalinya dengan pencarian pengetahuan yang memadai tentang bidang atau hal yang akan ditulis. Ini dapat dianalogikan sambil berenang minum air makan ikan. Sambil belajar menulis, kita sekaligus melatih kemampuan otak dan memotivasi diri untuk belajar lebih banyak.
Menulis adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan. Jika seluruh pepohonan dijadikan pulpen dan seluruh lautan dijadikan tintanya maka itu belum cukup untuk menuliskan semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Luasnya pengetahuan berarti pula luasnya bidang atau hal yang dapat ditulis. Mustahil bagi seseorang untuk mengetahui segala pengetahuan berarti juga mustahil bagi sesorang untuk dapat menulis segala hal. Untuk itu, fokus dalam satu bidang merupakan langkah yang terbaik untuk mulai menulis.
Ilmu pemerintahan merupakan salah satu bidang yang menarik untuk menjadi bahan tulisan. Ilmu pemerintahan merupakan ilmu yang masih kontroversial dikalangan pakar ilmu kenegaraan. Ilmu pemerintahan masih belum mapan sebagai sebuah bidang ilmu. Ini merupakan peluang besar untuk melibatkan diri dalam pencarian jati diri keilmuan dari ilmu pemerintahan karena masih banyak hal untuk dicari dan ditulis. Akan lebih menarik mencari pengetahuan baru ketimbang sekedar mempelajari yang sudah mapan.
***
Sebagai evaluasi atas tulisan yang dibuat, dalam buku tersebut disiapkan pertanyaan evaluatif “Kejutan apa yang kamu temukan?”. Pertanyaan ini mengevaluasi perasaan saat menulis sampai tulisan selesai. Dari tipenya, jika diklasivikasikan berdasarkan pertanyaan dalam penelitian, pertanyaan ini merupakan pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup karena sudah diarahkan bahwa penulis akan merasakan keterkejutan pada saat selesai menulis sedangkan pertanyaan terbuka menanyakan perasaan terkejut apa yang ditemukan.
Benar saja bahwa penulis merasa terkejut bahwa ternyata pertanyaan sederhana ternyata dapat dikembangkan kemana-mana sehingga yang paling penting ada perasaan bahwa “menulis bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan”.

***Silahkan Mencoba!!!!!***
 
 
Blogger Templates