Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 30 September 2020

Simpul Tambat

Taukah kau apa gunanya simpul tambat? Ya, betul. Ia adalah awal dari ikatan silang. 
Taukah kau apa gunanya ikatan silang? Ya betul. Ikatan ini digunakan dalam membuat berbagai macam bangunan.

Menurutmu kita sedang belajar pioneering? Maaf saya tidak pandai mengajarkannya. Saya hanya ingin kau mengamatinya.

Simpul ini sangat sederhana, anak penggalang pun bisa membuatnya. Jika sudah digunakan mengawali ikatan, simpul ini tenggelam dalam gulungan tali. Sederhana bukan? Dia mengajarimu untuk selalu low profile. Tak perlu selalu menonjolkan diri.

Coba lihat gunanya, mengawali ikatan. Apa yang diikat? Dua tongkat yang bersilangan. Sekali lagi ia mengajarimu, menyatukan sesuatu yang bersilangan bisa dimulai dengan menambatkan dirimu di titik pertemuannya. Lakukan berkali kali untuk tongkat tongkat lain yang bersilangan, maka jadilah bangunanmu. 
Pada tongkat tongkat yang diikat kita temukan keberagaman..
Pada tambat dan ikatan kita temukan kebersamaan..
Pada bangunan yang berdiri kokoh kita temukan kejayaan.. Kini kau tau jika yang ingin ku ceritakan adalah tentang @pramuka_unhas

Lembaga yang sekretariat nya ku sebut rumah dan anggotanya kusebut keluarga. Padanya kutambatkan banyak rasa yang kini menjadi ikatan. 
Selamat ulang tahun yang ke 42.

Keberagaman dan Kebersamaan Kita Berjaya

Selasa, 14 Agustus 2018

Harari dan Hari-Hari yang Berat

Tulisan ini sesungguhnya adalah pelanggaran. Saat seharusnya saya menyelesaikan setumpuk tulisan lain yang berkaitan dengan tugas di kantor, saya malah menulis di blog ini. Pekerjaan saya memang menumpuk belakangan ini. Semua tiba-tiba seolah datang bersamaan. Di tengah kesibukan itu, saya sekali sekali melarikan diri. Menulis ini adalah salah satu bentuk pelarian selain membuka sosmed, membaca artikel artikel, novel atau buku.

Pelarian yang akan saya ceritakan kali ini adalah tentang karya Yuval Noah Harari. Saya memiliki dua buku fenomenal karya Harari, Sapiens dan Homo Deus. Orang-orang menyarankan membaca Sapiens dulu lalu Homo Deus. Saya tidak mengikuti saran itu. Saya membaca Homo Deus dan rencananya akan membaca Sapiens belakangan.

Buku ini menarik bagi saya karena saya memang selalu senang membaca tulisan yang menyajikan fakta sejarah untuk memahami masa kini dan masa depan. Itulah mengapa novel yang berkesan bagi saya selalu saja ada konteks sejarahnya seperti tetralogi buruh karya Pramudia, Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, dan yang terbaru Laut Bercerita nya Leila S. Choduri. Buku Homo Deus ditulis dengan gaya bercerita seperti itu. Mulai dari sejarah, konteks masa kini dan proyeksi masa depan.

Harari bercerita bagaimana manusia di masa lalu kalah dengan wabah dan perang. Harari menyajikan data bagaimana wabah bisa menghabiskan lebih dari setengah populasi di sebuah negara di masa lalu. Informasi ini menarik bagi saya di tengah perdebatan tentang vaksin campak rubella. Kalau saja orang-orang membaca bagaimana wabah menghabiskan populasi di masa lalu, ide tentang vaksin akan lebih muda diterima dibandingkan ide-ide konspiratif.

Manusia saat ini adalah manusia yang berhasil mengalahkan hari-hari suram dari wabah dan perang yang berdampak buruk di masa lalu. Manusia mengembangkan vaksin serta sistem sosial yang pada akhirnya menghindarkan manusia pada penderitaan-penderitaan seperti masa lalu. Setelah melalui tahap bertahan hidup, manusia kini mencari sesuatu yang lebih dari sekedar perdamaian dan bebas dari wabah. Harari menyimpulkan bahwa kebutuhan manusia saat ini adalah untuk hidup abadi (immortal) dan bahagia. Setelah menang melawan virus, manusia mengupayakan agar hidup lebih lama. Jika memungkinkan, hidup selamanya. Untuk mencapai kebahagiaan, manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah hidupnya.

Bagaimana sejarah akan berjalan ke depan? untuk mencapai kebahagiaan dan keabadian, manusia menciptakan biroteknologi dan artificial intelegent. Dua instrumen ini pula yang akan berpengaruh terhadap masa depan umat manusia. Bagaimana bioteknologi dan artificial intelegent berpengaruh ke masa depan akan saya ceritakan di lain waktu karena saya belum tuntas membaca bagian itu.

Lalu mengapa Homo Deus? Harari bercerita tentang perubahan cara berpikir manusia. Saat wabah belum dipahami manusia, segalanya dianggap sebagai hukuman Tuhan kepada manusia. Saat ini, saat sains sudah mampu menjawab banyak hal yang dulunya belum dipahami manusia, kepercayaan manusia terhadap Tuhan diyakini Harari sudah menghilang. Bahkan beberapa kali Harari mengutip pernyataan Nitzce bahwa "Tuhan telah Mati". Dengan obsesi manusia untuk hidup abadi dan mengontrol segala hal, manusia telah berupaya untuk menjadi Tuhan. Itulah mengapa Homo Deus dipilih menjadi judul buku ini. Dalam buku ini, Harari juga menjelaskan proses bagaimana kata-kata bisa membentuk realitas. Kata-kata yang dimaksud seperti data, teori dan dan bahkan kitab suci. Pernyataan kontroversial dari Rocky Gerung beberapa saat yang lalu tentang 'kitab suci adalah fiksi" dijelaskan lebih jauh oleh Harari. Saya akhirnya meyakini jika pernyataan Rocky Gerung terinspirasi dari Homo Deus. Saya sekaligus sedikit mengerti cara berpikir Rocky Gerung dalam hal "Ketuhanan yang Maha Esa".

Apa yang menarik selain konten sejarah yang diceritakan oleh Harari adalah gaya menulisnya. Dalam banyak bagian, dia membiarkan celah bagi saya untuk meragukan tulisannya. Seolah dia sengaja membuka lubang besar untuk dikritisi. Semua kritikan yang telah menghantui pikiran saya saat membaca di bagian awal dijawab tuntas di bagian akhir. Saya akhirnya merasa seperti sapi yang dihidungnya dipasangi rotan lalu ditarik kesana kemari sesuai kehendaknya. Tentang agama misalnya, Harari mengkritik agama karena tidak menyediakan jawaban tentang masalah teknologi yang dihadapi manusia saat ini. Menurutnya, agama hanya berdimensi masa lalu. Saya tentu saja dengan posisi defensif berpikir bahwa tafsir tentang kitab suci nyatanya selalu berkembang setiap zaman. Saya merasa Harari salah dalam hal tersebut. Lalu dibagian akhir, Harari mencontohkan bahwa pemuka agama bukan mengembangkan sesuatu dari kitab suci. Ketika dunia berkembang, para pemuka agama akan "kembali membaca ayat demi ayat dalam kitab suci dan pada akhirnya menemukan penjelasan moral tentang fenomena tersebut". Bagi saya itu adalah pukulan yang cukup telak untuk meruntuhkan sikap Defensif saya. Saya mau tidak mau harus menyetujui apa yang dituliskan oleh Harari.

Saya beruntung karena hidup dalam masyarakat religius. Saya tidak bisa membayangkan jika saya hidup dalam masyarakat sekuler. Barangkali saya akan dengan mudah menjadi ateis dengan bacaan-bacaan seperti ini. Lingkungan religius membentuk cara berpikir saya untuk keluar dari perdebatan rasional seperti itu. Jika ada pertanyaan yang belum mampu terjawab hari ini, saya yakin bukan karena Tuhan tidak ada sebagaimana diyakini Harari. Yang saya yakini dalam banyak hal, Tuhan memang tidak serta merta mampu dijelaskan oleh akal. Bukankah syarat pertama untuk menjadi Islam adalah menyatakan "tidak ada Tuhan selain Allah". Persaksian ini di mulai dari menegasikan lalu kemudian menegaskan. Homo Deus pada ahirnya saya anggap sebagai bagian dari persaksian ini.

***

Membaca Homo Deus di hari-hari yang serba berat rasanya seperti piknik melintasi zaman. Saya merasa seperti memasuki otak para pelaku sejarah yang diceritakan oleh Harari. Tak seperti pikinik ke tempat menarik yang hanya melibatkan rasa, piknik yang dipandu oleh Harari melibatkan logika, perasaan dan keyakinan. Bukankah ini piknik yang cukup menarik bagi orang-orang yang memang sedang butuh piknik?

Makassar, 14 Agustus 2018

Rabu, 06 Juni 2018

Kerja Kolektif


Untuk teman-teman 
CPNS STIA LAN MAKASSAR 2018

Tulisan ini terinspirasi dari kado ulang tahun dari Istri saya pada 23 Mei 2018. Lewat tengah malam tiba-tiba saya disodorkan sebuah buku catatan. Di halaman awal tertempel sebuah foto kami sekeluarga. Di halaman-halaman selanjutnya tertulis kenangan-kenangan dia tentang saya, mulai dari bagaimana kami berkenalan hingga akhirnya berumah tangga. Tak perlu saya ceritakan detailnya disini. Cukuplah romantisme itu untuk saya sendiri, disamping saya khawatir kisah itu menjadi kekerasan verbal bagi teman-teman yang masih lajang. Hihi..

Sebelumnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua teman yang telah mendoakan saya di perulangan hari kelahiran saya 23 Mei 2018. Juga untuk kue ulang tahun sehari setelahnya. Sebenarnya di keluarga kami tidak merayakan ulang tahun dengan cara seperti itu. Apalagi sampai pakai kue ulang tahun. Saya bersyukur hari itu tidak ada lilin segala. Saya sudah tau kalau akan ada kue ulang tahun di senja itu. Sebagian dari diri saya ingin menolak dan merusak semua rencana kalian. Tapi saya tau ada yang lebih penting yang sangat saya hargai dari semua itu: KERJA KOLEKTIF. Dan inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini.

Dua hari yang lalu, tepatnya Senin, 4 Juni 2018, saat assesor BAN PT bertanya kepada kita semua tentang apa yang menyenangkan selama di STIA LAN Makassar. Barangkali teman teman yang hadir saat itu tau jawaban saya adalah kerja sama dengan kalian semua. Saya pernah bekerja sendiri dalam waktu yang cukup lama, sehingga bekerja bersama sungguh menyenangkan. Saya sungguh menikmati moment-moment belajar bersama, mengerjakan tugas bersama dan berbagi tugas besama. Bahwa ada satu dua gesekan atau perdebatan yang tidak berujung saya pikir itu adalah bagian dari kerja kolektif yang tetap saja menyenangkan. Semoga kerja-kerja kolektif ini bisa dipertahankan.
Kita sama-sama belum tau bagaimana kerja kolektif ini akan berakhir. Yang paling sering kita dengarkan adalah mutasi ke unit kerja yang baru. Entah kemana dan entah kapan. Meski semua masih misteri, yang paling penting adalah mensyukuri setiap waktu yang ada. Salah satu caranya adalah melalui dokumentasi. Yang selama ini selalu dilakukan adalah berfoto rame-rame. Karena menurut anak fotografi: satu gambar itu bisa bercerita lebih dari seribu kata. Maka teruslah berfoto. Hidup FOTO!!

Melalui tulisan ini saya menawarkan sebuah bentuk dokumentasi yang sepertinya lebih produktif dari sekedar foto-foto. Saya mengajak teman-teman mengikat kenangan-kenangan melalui kumpulan tulisan. Saya berharap kita sekali lagi melakukan KERJA KOLEKTIF yang bisa menghasilkan sebuah buku kumpulan tulisan.

Lalu apa yang sebaiknya ditulis? Saran saya adalah semua kenangan mulai dari proses pendaftaran, CPNS hingga (semoga) jadi PNS. Ada banyak kasus dan perspektif yang saya pikir akan menarik untuk ditulis. Temanya bisa yang agak berat berupa opini, misalnya: perubahan pola latsar, kasus e-learning yang belum ramah milenial, manajemen Calon ASN, penyampaian materi latsar, muatan modul latsar, efisiensi penyelenggaraan latsar, pengaruh tukin terhadap kinerja CPNS, dll. Ada banyak sekali kasus yang sepertinya bisa dikaji berdasarkan latar belakang dan keilmuan kita masing masing.

Tema lain yang bisa lebih ringan adalah mengenai pengalaman kita selama menjadi CPNS, misalnya: perubahan pola kerja dari malam ke siang, perubahan sikap keluarga setelah kita jadi CPNS, pengalaman akulturasi teman-teman dari luar sulawesi,  perubahan pola asuh anak setelah sering pulang malam, bagaimana berkompromi dengan stress kerja yang tinggi, bagaimana konsorsium mama-mama paggosip bisa terbentuk, pengalaman pemberkasan untuk kasus kehilangan ijazah, dll. Saya meyakini ada ribuan pengalaman dan perasaan kita yang bisa ditulis menjadi cerita menarik.
Selain dua tema tentang masa lalu, opsi lain yang bisa ditulis adalah mengenai mimpi-mimpi kita kedepan. Entah mimpi untuk STIA LAN Makassar, mimpi untuk LAN atau mimpi pribadi berupa rencana karir dll.

Kalaulah ini bisa diterima menjadi mimpi bersama dan akhirnya kembali mewujud menjadi AKSI KOLEKTIF maka buku ini seharusnya sudah bisa dicetak dan disebarluaskan setelah kita dapat SK PNS (semoga) bulan Januari 2019. Hal-hal mengenai judul buku, cetak dimana, berapa biayanya akan dibahas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya setelah naskah terkumpul pada bulan Desember 2018.

***

Sepertinya saya sudah telalu banyak berencana tanpa meminta persetujuan teman-teman. Ini tidak harus dilakukan, karena saya bukan ketua kelas (apalagi KEPALA LAN). Tetapi sekali lagi, saya mengingatkan bahwa kita sama-sama belum tau bagaimana kebersamaan kita akan berakhir tetapi setidaknya kita bisa sama-sama mengingat bagaimana semua ini dimulai. Semoga buku kumpulan tulisan bisa menjadi sarana untuk itu selain foto-foto.

Jika pun tidak, saya telah menitipkan foto rame-rame kita dihari pertama diterima sebagai CPNS di STIA LAN MAKASSAR. Semoga itu bisa menjadi pengingat dengan kesan yang kuat. Buku catatan itu sendiri, terserah akan digunakan seperti apa. Tetapi saya perlu ceritakan bahwa buku itu sebenarnya adalah tawaran budaya baru kepada kita semua bahwa yang berulang tahun tidak selamanya berbagi kebahagiaan dengan “traktiran” makan. Bisa juga dengan hal-hal lain, dan saya bermimpi suatu saat akan berbagi buku karya saya sendiri di hari ulang tahun saya yang entah ke berapa. Semoga kita semua panjang umur hingga saat itu tiba. Oleh karena saya belum bisa membagikan buku kepada kalian semua maka saya berkompromi dengan membagikan buku catatan dan ajakan untuk menulis buku secara kolektif. Untuk itu, saya berharap di buku catatan itu ada coretan-coretan mengenai tulisan yang akan dikumpulkan menjadi sebuah buku karya kita bersama.

Terima kasih untuk kesediaan teman-teman membaca tulisan yang tidak jelas ini. Semoga mimpi ini menjadi mimpi kolektif dan 2019 kita terbitkan buku bersama.

Makassar, 6 Juni 2018
Hormat Saya
ERWIN MUSDAH

Kamis, 25 Januari 2018

Menjadi Pramuka

Aku juga ingin mengucapkan selamat hari pramuka.
Lantas ku ingat amanah yang kadangkala ku abaikan.
Cukup bertanggungjawab dan dapat dipercayakah aku untuk menyebut diriku pramuka?

Aku ingin mengucap selamat hari pramuka.
Lantas ku ingat kata kataku yang kadangkala menyakiti orang lain.
Cukup sucikah aku dalam pikiran perkataan dan perbuatan untuk menyebut diriku pramuka?

Aku ingin mengucap selamat hari pramuka.
Lantas ku ingat waktu yang kadang ku lalaikan.
Cukup disiplin berani dan setiakah aku untuk menyebut diriku pramuka?

Aku ingin mengucap selamat hari pramuka.
Lantas ku ingat si miskin yang kubiarkan kelaparan di jalan.
Cukup berkasih sayangkah aku kepada sesama manusia untuk menyebut diriku pramuka?

Bukan karena baju coklatnya orang menjadi pramuka. Sebab tak ada diantara sepuluh dharma itu yang menyebutkan seragam. Tak pula karena tali temali orang menjadi pramuka. Sebab tak ada diantara sepuluh dharma itu yang menyebutkan tekpram.

Pramuka adalah tentang sepuluh nilai dasar yang menjadikan manusia paripurna. Lalu adakah manusia yang separipurna itu selain para penyampai pesan Tuhan? Jika tak ada, apakah berarti pramuka itu tak pernah betul betul ada?

Di ujung kontemplasi ini ku temukan jawaban yang justru berada di awal seseorang menjadi pramuka. Pada janji yang dijamin atas nama kehormatan. Pada trisatya kudapati jawabannya. Bahwa pramuka bukan soal hasil akhir tapi pada kesungguhan gerak menuju padanya. Pada setiap yang menjadi pramuka harus terlebih dahulu berjanji akan "bersungguh sungguh" menjalankan kewajiban kepada tuhan, negara, masyarakat dan nilai nilai dasar yang sepuluh itu. Jadi makna pramuka bukan pada hasil tapi pada proses yang dilalui secara bersungguh sungguh menuju paripurna.

Jadi apakah aku sudah pramuka? Yang pasti aku pernah berjanji untuk bergerak menuju paripurna. Pada gerak itu aku merasa pramuka.

Jadi bolehlah kali ini ku ikut mengucap Selamat hari pramuka bagi yang masih bersungguh sungguh menuju paripurna.

Makassar 14 Agustus 2017

Dunia yang Kukejar


Dunia yang ku kejar

Kuharap kepalaku kan tegak

Kudapati kepalaku tertunduk malu

Dunia yang ku kejar

Kupikir cita-cita ideal kan terwujud

Kudapati kompromi-kompromi yang kian busuk

Dunia yang kukejar

Tak henti hentinya memanggil tuk terus berlari

Kupikir sekarang aku yang dikejarnya

Dunia yang kukejar

Dalam berdiri ku tegak

Otak dipuncak

Hati terinjak

Kamis 20 Juli 2017

Makassar

Rabu, 02 November 2016

Pemuda Kota Makassar: Harapan atau Kecemasan?

Sumber: http://www.aktual.com/
Tidak sedikit orang di luar Makassar yang memiliki pandangan bahwa Makassar itu kota “kasar”. Stigma negatif tersebut cukup beralasan. Lihat saja misalnya data dua tahun beruturut-turut (2015 dan 2016), Kota Makassar selalu menempati ranking satu untuk tingkat kriminalitas tertinggi di Sulawesi Selatan. Berdasarkan data dari Polda Sulsel, dari bulan Januari sampai Maret 2016 terdapat 378 kasus kejahatan di Kota Makassar. Jumlah itu terhitung sekitar tujuh kali lipat dengan angka kejahatan di Kabupaten Gowa yang menempati posisi kedua tertinggi setelah Makassar. Kejahatan yang tercatat terdiri dari kasus penganiayaan berat (anirat), pembunuhan, pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, pencurian hewan ternak hingga kasus narkoba. (Liputan 6, 2016). Apa yang paling mencengangkan dari data tersebut adalah pelaku kejahatan didominasi oleh kaum muda. Tidak sedikit diantaranya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Berbagai kasus kejahatan yang didominasi oleh pemuda tersebut menumbuhkan kekhawatiran tentang masa depan Kota Makassar. Akan jadi seperti apa Kota Makassar kedepan jika kaum muda banyak yang sedini mungkin telah terpapar kejahatan? Apakah masih ada harapan bagi kota ini untuk menjadi lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dengan lebih dahulu menjernihkan pemahaman kita mengenai pemetaan pemuda di Kota Makassar.

Jumat, 28 Oktober 2016

Anak-Anak Kuri Caddi

Pagi itu tak seperti pagi biasanya bagi bocah-bocah dusun Kuri Caddi. Sekitar setengah delapan pagi, beberapa orang diantara mereka sudah mulai berkumpul di sekitar tempat kami berkemah. Beberapa orang tampak mengenakai pakaian rapi dan bersih seperti hendak ke pesta. Padahal mereka sengaja diminta datang membantu kami membersihkan di sekitar sekolah mereka. Sekolah yang mereka gunakan secara bergantian antara siswa Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Satu-satunya sekolah di dusun itu. 

Sembari menunggu kami yang terlambat bersiap-siap, anak-anak berkumpul di kantin di samping sekolah. Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter. Hampir di seluruh ruangan dipenuhi dengan beraneka macam makanan ringan yang tergantung dimana-mana. Banyak merk makanan ringan yang baru pertama kali saya temukan di tempat itu. Ya, sudut-sudut desa terpencil memang selalu menjadi sasaran empuk para penjual makanan ringan. Anak-anak kecil senang saja berbelanja tanpa tau bahayanya bagi kesehatan. Pagi itu, mi gelas menjadi primadona anak-anak kecil. Tampaknya mereka dibekali uang jajan oleh orang tua masing-masing. 

Selasa, 22 September 2015

Sepenggal Cerita tentang Papua

kisah papua
Potongan berita online tentang Papua
Sumber: merdeka.com


Suatu ketika di Papua saat mencari rumah responden, dengan arahan sekumpulan anak kecil yang menjadi penunjuk jalan, saya melewati pekarangan rumah yang cukup besar dibanding dengan rumah-rumah warga di sekitarnya. Begitu selesai melakukan wawancara dengan responden, seorang ibu telah menunggu dengan tatapan sinis. Benar saja, ibu yang saya maksud adalah ibu pemilik rumah yang pekarangannya saya lewati tadi. Terjadi dialog singkat yang agak menggelitik:

Rabu, 19 Agustus 2015

MERDEKA!!!

Kata orang sih, jangan mengaku cinta jika belum mengucap nama yang kamu cintai dalam doa mu?

Hari ini banyak yang menunjukkan cintanya ke Indonesia dengan berbagi ekspresi: upacara bendera, mengibarkan bendera di  bawah laut ataupun di puncak gunung, ada pula yang sekedar meramaikan dunia maya dengan ucapan dirgahayu negeriku (seperti saya)..

Apa pun ekspresi kecintaan yang ditunjukkan, jangan lupa menyelipkan doa  untuk negeri dalam sederetan doa mu: semoga masa krisis cepat berlalu (seperti saran ustads Yusuf Mansur), semoga bebas negeri kita dari korupsi dan sederetan doa yang baik2 untuk negeri kita..
Dan YANG PALING PENTING, setelah berdoa, seperti tema perayaan kemerdekaan Indonesia ke 70, Ayo Kerja!!!
Ayo berbuat untuk negeri!!!

Dirgahayu Indonesia ke 70..
Semoga jaya negeriku..

Makassar, 17 Agustus 1945

Selasa, 11 Agustus 2015

Power Point Mengurangi Kecerdasan?

"power point sebagai salah satu penyebab menurunnya kecerdasan".
Kutipan diatas saya temukan dalam salah satu artikel koran online. Karena ragu dengan isi artikelnya, saya pun mencari sumber aslinya dan ketemulah artikel ini:

http://www.nytimes.com/2010/04/27/world/27powerpoint.html?fb_ref=Default

Memang benar bahwa US Army memberi perhatian serius pada wacana ini. Tetapi sepanjang yang saya baca (dengan pemahaman bhs Inggris yg terbatas), saya tidak menemukan bahwa wacana ini merupakan hasil penelitian sebagaimana diulas dalam koran online tadi. 
Sebaliknya, wacana ini justru berasal dari "candaan" mereka ttg sulitnya memahami slide dengan diagram dynamic system thinking sehingga bagi mereka: jika sudah bisa memahami slide sama saja sudah memenangkan perang (saking sulitnya).
Namun wacana berkembang dgn serius. Banyak yang bercerita pengalamannya memakai power point hingga berasumsi ttg dampak power point bagi pemahaman manusia. Pro kontra pun berlanjut dalam sesi komentar, ada yg sepakat dengan ulasan di artikel dan ada pula yang tidak. Bagi mereka yang tidak sepakat mengajukan argumen bahwa Power Point hanya alat, selebihnya tergantung penggunanya. Orang yang mendesain power point secara baik tentu akan menghasilkan power point yang mencerdaskan (mudah dipahami).
Perdebatan ini sebenarnya juga sudah lama mengganggu pikiran saya. Power Point sering kali menjadikan pelajaran menjadi instan, baik oleh presenternya maupun yang audiensnya. Pengalaman dalam proses perkuliahan, tak jarang slide yang di tampilkan merupakan hasil copi paste dari internet (jujur, saya juga pernah). Demikian pula bagi siswa (mahasiswa), power point bisa menjadi alat belajar instan. Tak perlu mencatat, tak perlu membaca buku, tinggal copy file dan baca sebentar dan selesailah pelajaran. Instan bukan?
Di sisi lain, power point juga bermanfaat (khususnya bagi pembelar visual) untuk menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi mudah di mengerti, entah itu melalui diagram sederhana, gambar ataupun video. Ini yang tidak di dapatkan jika hanya menjelaskan dengan media spidol dan papan tulis (apalagi mendikte).
Ya, seperti itulah tools..
Hadir untuk memudahkan, tetapi juga dapat membuat terlena dan menjadi malas..

Kamis, 16 Oktober 2014

Relasi Kentut dan Hukuman Mati: Perspektif Cocoklogi

hukuman
Sumber gambar: http://rizamuttaqin7.blogspot.com/
Dengan hanya membaca judulnya, sebagian orang mungkin berpikir bahwa tulisan ini adalah tulisan ngawur. Tulisan ini memang bisa dikatakan demikian meskipun tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini sebenarnya tulisan yang dibuat sekitar setahun lalu. Saat merapikan file sisa-sisa kuliah, tidak sengaja tulisan ini ditemukan. Percaya atau tidak, tulisan ini sebenarnya adalah tugas kuliah. Lebih anehnya lagi, ini adalah tugas mata kuliah (kalau tidak salah) Kebijakan Otonomi Daerah (dimana nyambungnya?).

Senin, 29 September 2014

Pilkada Tidak Langsung: Kemenangan Klientelisme atas Populisme

populisme
sumber gambar:http://skalanews.com/

Wacana Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) sedang menyerap perhatian publik. Diantara banyak point penting dalam UU Pilkada, perdebatan antara pemilihan langsung atau tidak langsung menjadi pusat perhatian. Berbagai argumentasi saling diperdebatkan untuk membenarkan pilihan politik masing-masing pihak. Bagi kalangan akademisi, perdebatan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Wacana ini telah lama didiskusikan dalam ruang-ruang akademik. Namun demikian, percikan politik pasca pemilihan presiden tampaknya berhasil membakar wacana ini ke permukaan dan akhirnya mendapat perhatian seluruh kalangan masyarakat.

Jumat, 22 Agustus 2014

Batas-Batas Kebebasan

batas kebebasan
sumber gambar:
http://www.tumblr.com/search/caknun
Pasca reformasi, sejumlah kebebasan dijamin oleh pemerintah, diantaranya: kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan memilih dan dipilih serta kebebasan lain-lain. Jika kita memberikan penilaian kepada kebebasan-kebebasan itu maka sebagian diantaranya akan dinilai  dengan melebihi skor ideal atau dengan kata lain sebagian diantaranya justru kebablasan.
Kembali melihat perjalanan sejarah kebebasan di Indonesia maka tidak akan terlepas dari cerita-cerita otoritarianisme yang terjadi di Indonesia pada masa orde baru. Kebebasan-kebebasan dikekang sehingga masyarakat merasa sesak dengan kekangan itu. Sampai akhirnya tekanan yang diberikan mencapai batas maksimalnya dengan perlawanan menuntut kebebasan. Pemerintah pada saat reformasi mengabulkan keinginan masyarakat dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi masyarakat dalam banyak hal maka terjadilah euforia kebebasan. 

Rabu, 06 Agustus 2014

Pattiro Sompe dan Cerita tentang Keihlasan

cerita tentang keihklasan
sumber: http://pakarcinta.com/

Pattiro Sompe adalah nama salah satu gunung (mungkin lebih tepat disebut bukit) di Kota Sengkang Kabupaten Wajo. Belum ada informasi yang pasti tentang asal-usul penamaan Pattiro Sompe ini. Jika diartikan secara etimologi, pattiro dalam bahasa bugis berarti melihat dari kejauhan sementara sompe berarti merantau. Jadi pattiro sompe dapat diartikan melihat orang merantau. Tapi, terjemahan kata pattiro sompe tidak lantas dapat disematkan pada Pattiro Sompe sebagai bukit tempat melihat orang merantau. Sebab, terdapat salah satu kelurahan di Kecamatan Sabbangparu Kabupaten Wajo yang bernama Kelurahan Sompe. Ini tentu memunculkan pilihan pemaknaan lain dari Pattiro Sompe yaitu bukit tempat melihat (kelurahan) Sompe.

Senin, 04 Agustus 2014

Ikhlas Berbagi Sejadah

Seringkali kita lupa membawa sejadah ketika ikut shalat berjamaah di mesjid atau di tempat lain. Jika beruntung, jemaah disamping kita akan berbagi sejadah dengan kita. Namun pernahkah anda perhatikan saat jemaah saling berbagi sejadah?

Selasa, 29 Juli 2014

Bergesernya Waktu


shifting time
sumber gambar:
 http://www.club.cc.cmu.edu/

Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Begitulah mungkin penjelasan yang tepat mengapa perubahan kian terasa. Dulu, waktu kecil ku sering bertanya: mengapa orang-orang dewasa begitu membosankan? Mengapa orang dewasa senang menggunakan cincin dengan batu permata?

Minggu, 15 Juni 2014

TV One, Pilpres dan Piala Dunia

pilpres 2014
sumber gambar: facebook

Tulisan ini terinspirasi dari wacana lucu2an yang diangkat oleh pendukung capres nomor satu. Katanya: "pendukungnya prabowo hatta silahkan nonton piala dunia hanya di TV One, pendukung jokowi nontonya di Running Text Metro TV Saja". Menarik sekali pernyataan tersebut mengingat memang TV One pada saat ini tampak terang-terangan sebagai media kampanye prabowo hatta. Sementara itu, piala dunia hanya disiarkan oleh TV One dan ANTV yang membuat para pendukung Jokowi JK yang selama ini tidak senang menonton TV One terpaksa harus menyetel siaran tersebut untuk menikmati pertandingan piala dunia.

Jumat, 06 Juni 2014

Meninjau Ulang Kebebasan Pers

Meninjau Ulang Kebebasan Pers
Sumber gambar: antaranews.com
Kebebasan Pers menjadi salah satu isu sentral yang diperjuangkan oleh gerakan reformasi. Pada masa orde baru, pers tidak bebas dalam menyampaikan informasi kepada publik. Pers berada di bawah kontrol ketat pemerintah. Pasca reformasi, pers telah semakin bebas menyampaikan berita. Beberapa tahun terakhir, pers bahkan telah menjelma menjadi kekuatan "menakutkan" bagi pemerintah. Tak jarang kebijakan pemerintah dipengaruhi oleh pemberitaan media. Puncaknya, pers kemudian dianggap sebagai pilar keempat negara selain eksekutif, yudikatif dan legislatif.
 
 
Blogger Templates