Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 23 April 2014

Selamat dari Merapi


Yogyakarta 20 April 2014 merapi kembali meletus. Media memberitakannya sebagai letusan ringan. Kami merasakannya sebagai letusan dahsyat. Di saat yang sama merapi meletus, kami sedang berada dalam radius satu kilometer dari puncak merapi.


Yogyakarta 19 April 2014 sekitar pukul delapan pagi, aku akhirnya memastikan untuk ikut mendaki di Merapi setelah mendapat kepastian jadwal konsultasi tesis dari dosen pembimbing. Karena waktu konsultasi masih minggu depan, ku putuskan untuk mengisi waktu dengan mendaki gunung Merapi. Jadilah kami bertiga berangkat. Aku berangkat bersama Hary, mahasiswa pascasarjana politik pemerintahan UGM yang juga senior ku waktu S1 di Unhas. Satu orang lainnya adalah Haerul, mahasiswa pascasarjana ilmu pemerintahan di UMY yang juga teman angkatan ku S1 di Unhas.
Setelah shalat dhuhur, aku dan Hary berangkat menggunakan bus menuju terminal Jombor. Dari terminal Jombor lanjut naik bus lain menuju Blabak Magelang. Dari sana kami naik angkot atau omprengan dalam bahasa penduduk lokal menuju Sawangan. Di Sawangan, kami menunggu kendaraan menuju Selo. Ada tiga pilihan kendaraan. Ojek dengan tarif 75.000 rupiah per orang, omprengan dengan tarif 50.000 rupiah per orang atau mobil pick up dengan tarif 7.500 rupiah per orang. Dengan alasan efisiensi biaya kami akhirnya memilih naik mobil pick up menuju Selo meskipun tidak efisien dari segi waktu. Kami harus menunggu hingga dua jam di Sawangan sampai ada mobil pick up menuju selo. Mobil pick up yang oleh warga setempat dinamai motor bukaan adalah mobil pengangkut sayur yang telah kembali dari Jogja menuju Selo.

Gambar: naik omprengan bersama warga

Sampai di Selo, kami berjalan naik menuju base camp Bara Meru untuk melapor. Jalurnya lumayan menanjak sehingga menjadi pemanasan yang baik sebelum betul-betul mendaki. Sebelum sampai di base camp, kami singgah shalat ashar di salah satu mesjid sekaligus berteduh karena hujan cukup deras. Setelah shalat, aku mendengar percakapan Hary dengan dua orang pemuda di mesjid. Mereka menceritakan cuaca di Selo yang beberapa hari sebelumnya panas. Hujan baru turun di hari tersebut. Sontak pikiran ku teringat kembali materi saat kuliah mitigasi bencana. Dosen pada saat itu menjelaskan asumsi ilmuan lain yang menjelaskan fenomena letusan kecil Merapi pada akhir tahun 2013. Dijelaskan bahwa merapi meletus ringan karena beberapa hari sebelumnya cuaca panas sehingga panas Merapi dengan bebas dikeluarkan. Namun sehari sebelum merapi meletus ringan, cuaca menjadi dingin dan hujan lebat sehingga panas merapi tertekan oleh air hujan. Akhirnya panas yang terkurung dilepaskan sekalian dengan letusan kecil.
Persis seperti teori yang dijelaskan di ruang kuliah, di daerah sekitar Merapi, cuaca panas terjadi beberapa hari sebelumnya. Tepat di hari kami mendaki, di wilayah Selo turun hujan lebat seharian. Percakapan antara Hary dengan dua orang pemuda dimesjid serta teori meletusnya merapi yang ku dapatkan waktu kuliah membuat ku was-was. Namun, rasa ragu itu ku pendam sendiri. Tak satupun orang ku beritahu apa yang kupikirkan. Lagipula memang aktivitas pendakian adalah aktivitas melawan rasa takut dan rasa ragu pikirku.
Usai shalat kami lanjut ke bas camp Bara Meru. Disana sudah ada Haerul yang lebih duluan tiba di base camp karena memang berangkat menggunakan sepeda motor. Menurut informasi yang dia dapatkan sebelumnya, perizinan mendaki di Merapi hanya sampai pada Pos Pasar Bubrah. Pendaki tidak diizinkan untuk sampai ke puncak Merapi. Setelah aku dan Hary melapor di pos jaga, kami mulai mendaki mengikuti jalan aspal menuju deretan warung di bawah tulisan NEW SELO di kaki Gunung yang bentuknya mirip Hollywood di Amerika.
Karena waktu magrib telah tiba maka kami memutuskan untuk shalat magrib dijamak isha dan mengisi perut sebelum berangkat. Tanpa di sengaja, warung makan yang kami pilih ternyata pemiliknya orang dari Sinjai yang beristri orang Jawa. Sayangnya Bapak yang dari Sinjai tidak di tempat magrib itu. Hanya istrinya yang menjaga warung. Setelah shalat dan makan selesai, kami bersiap-siap mulai mendaki. Tidak lupa dimulai dengan berdoa bersama. Pikiran ragu-ragu dan sedikit takut coba kuimbangi dengan berdoa dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak lupa memohon kemudahan dan keselamatan dalam perjalanan. Doa selesai dan kami mulai mendaki.
Kami berjalan dengan formasi aku di posisi paling depan sambil mencari jalur pendakian, diikuti Haerul yang nekat membawa carrier yang penuh dengan peralatan dan terakhir Hary paling belakang. Selain karena jalurnya cukup terjal sehingga cukup menguras tenaga, kami juga harus mengatur ritme perjalanan karena salah seorang diantara kami baru pertama kalinya mendaki. Pendakian di Merapi merupakan pendakian pertama Haerul. Pada pendakian sebelumnya, tepatnya di Gunung Sindoro dan Semeru, Haerul sama sekali tidak tertarik. Entah apa yang membuatnya tertarik ikut mendaki kali ini.
Butuh waktu lebih dari tiga jam bagi kami untuk sampai ke pos II merapi. Di pos II telah terpasang beberapa tenda. Salah satunya masih sementara dipasang oleh rombongan yang tiba lebih duluan dari kami. Menurut mereka, ngecamp di POS II lebih aman dari ancaman angin kencang dari pada di Pasar Bubrah. Di POS II masih banyak vegetasi yang bisa melindungi tenda dari terpaan angin kencang. Kami pun akhirnya tertarik untuk memasang tenda di POS II. Sayangnya kami tidak menemukan ada tanah lapang yang cukup untuk memasang tenda. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya.
Di perjalanan kami kembali menemukan dua buah tenda yang telah berdiri di daerah sebelum Batu Gajah. Di salah satu tenda tampak sekelompok pemuda yang sedang asyik bermain kartu. Kami kembali bertanya tentang kondisi Pasar Bubrah dan mereka menjelaskan bahwa di daerah Pasar Bubrah rawan angin kencang. Selain itu, tanah di pasar bubrah cukup keras sehingga tidak bisa dipasang patok tenda. Untuk itu kami mencari lokasi untuk memasang tenda di sekitar lokasi dua tenda tadi. Selain karena pertimbangan orang-orang tadi, puncak merapi juga sudah mulai tampak dari tempat kami yang berarti tidak butuh banyak waktu untuk sampai ke puncak merapi besoknya.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Kami mulai memasang tenda di tempat yang cukup terlindung dari angin. Malam itu aku merasa tenda kami terpasang dengan sempurna. Semua patoknya terpasang dengan rapi. Tali-tali penguat tenda juga terpasang dengan kencang. Di dalam tenda, barang juga telah kami susun dengan memperhitungkan kemungkinan hujan saat kami tertidur. Setelah semua rapi, Haerul dan Hary menyempatkan diri untuk makan roti sebelum tidur. Aku tidak tertarik untuk ikut makan karena memang kebiasaan ku tidak makan apa-apa di saat telah merasa ngantuk. Aku lebih memilih bersiap-siap untuk tidur. Besok pukul empat subuh kami berencana mulai mendaki menuju puncak merapi. Malam semakin larut dan semua telah berada pada posisi tidur. Aku sulit tertidur malam itu. Mungkin karena rasa dingin yang luar biasa di bagian kaki membuatku sulit untuk tidur. Sesekali ku dengar Haerul mengorok dan Hary menggigil kedinginan. Tidur mereka cukup nyenyak sepertinya.
Sabtu, 20 April 2014 sekitar pukul empat subuh, Hary telah bangun dari tidurnya dan mulai mengeluarkan alat memasak. Aku pun ikut terbangun tetapi masih berselimut sleeping bed. Setelah memasak air panas, Hary membuat susu coklat untuk menghangatkan badan. Tak lama kemudian Haerul juga telah terbangun. Kami bertiga menikmati susu coklat ditambah roti tawar. Setelah minum susu, Hary mulai memasak nasi. Haerul menyarankan agar masaknya nanti saja setelah muncak. Tapi karena aku sudah sangat lapar maka memasak nasinya dilanjutkan. Kami memutuskan makan dulu baru mendaki ke puncak. Sempat teringat kembali keragu-raguanku sore sehari sebelumnya. Bagaimana jika merapi meletus di saat kami ada di puncak? Pikiran-pikiran itu membuatku berpikir mencari-cari alasan agar lebih lambat mendaki merapi.  Seingatku, letusan merapi sebelumnya terjadi pukul enam pagi sehingga penting untuk mencari alasan agar keberangkatan pagi nanti tertunda dan sebisa mungkin kami muncak setelah jam enam pagi. Tapi pikiran itu lagi-lagi tidak ku sampaikan ke teman-teman lain.
Sekitar pukul setengah lima, Hary yang memasak di luar tenda sempat menggambarkan keadaan cuaca di luar tenda yang tiba-tiba kelihatan mendung. Padahal beberapa saat sebelumnya, langit tampak cerah dan bintang-bintang tampak jelas. Kami yang berada di dalam tenda juga melihat kilatan-kilatan cahaya serupa petir. Mungkin akan turun hujan pagi ini pikirku. Tak lama berselang, Hary melihat cahaya yang sangat terang dari arah puncak merapi. Untuk memastikannya, Hary berlari keluar tenda untuk melihat apa yang terjadi. “merapi meletus!!!” teriaknya. Aku dan Haerul yang berada di dalam tenda langsung bergegas keluar. Aku yang keluar paling terakhir dari tenda langsung memasang sepatu untuk bersiap-siap lari menyelamatkan diri. Tak sekalipun aku berbalik melihat keadaan Merapi. Satu hal yang ku pikirkan adalah menyelamatkan diri. Hary sempat berniat packing barang-barang untuk dibawa. Aku yang sudah panik di depan tenda melihat kondisi barang betul-betul terhambur di dalam tenda. Entah barang yang mana yang mau di ambil duluan. Tapi akhirnya aku sempat mengambil tas dan plastik yang berisi handphone dan kamera. Beruntung kami masih sempat mengambil sebotol air mineral dan sebungkus biskuit coklat.
Teriakan-teriakan pendaki lain membuat kami semakin panik. Diantara mereka ada yang berteriak: “lari..ayo lari.. tinggalkan saja barangnya.. selamatkan diri dulu!!!..”. Suasana semakin mencekam dengan adanya suara beberapa pendaki wanita yang menangis ketakutan. Kepanikan yang benar-benar beralasan karena jarak kami dari puncak merapi kurang dari satu kilometer. Di tengah kepanikan itu, beruntung kami masih sempat sedikit berpikir rasional. Mematikan kompor yang masih menyala dan menutup rapat-rapat pintu tenda. Tak lupa aku mengambil masker di dalam tas. Sisanya, aku lupa mengambil dompet dan yang lebih penting senter untuk penerangan. Kami membangunkan setiap orang di setiap tenda yang kami lalui. Beberapa diantaranya telah lebih duluan lari menyelamatkan diri.
Suara gemuruh merapi terdengar sepanjang jalan kami menyelamatkan diri. Aku sempat memalingkan muka melihat ke puncak merapi. Terlihat asap tebal berwarna hitam mengepul keluar dari kawah merapi. Di antara semburan asap terlihat petir menyambar ke arah kawah merapi. Sampai di pos dua kami masih saja merasa panik. Sekali terdengar suara letusan merapi yang membuat sebagian orang kembali histeris. “Laahaula walakuwata illabillahil aliyul adzim”, hanya kata itu yang terlontar dari mulutku kala letusan merapi kembali terdengar. Ketidakpastian skala letusan dan tidak menentunya arah angin membuat suasana serba tidak pasti. Selain itu, kami harus melalui jalan terjal yang berbatu menuju pos satu untuk tempat evakuasi sementara.
Setelah beberapa saat berjalan, di saat suara gemuruh merapi tak lagi terdengar, kujulurkan tanganku untuk melihat apakah ada kerikil atau debu yang terlontar sampai ke posisi kami saat itu. Alhamdulillah tidak ada tanda-tanda letusan merapi sampai ke tempat kami. Tapi kami masih harus terus berjalan sampai ada instruksi dari tim SAR. Di tengah perjalanan, pikiran takut dampak merapi mulai berkurang digantikan dengan pikiran tentang barang-barang yang tertinggal di atas. Semakin jauh kami turun berarti juga semakin jauh kami kembali naik mengambil barang yang ketinggalan. Medan yang cukup terjal membuatku ragu apakah masih punya tenaga untuk kembali mendaki. Harus beristirahat beberapa hari untuk mampu kembali mendaki pikirku.
Tiba di POS I, kami beristirahat sejenak. Di sana telah ada beberapa SAR dan pendaki yang beristirahat sejenak. Tim SAR menginstruksikan untuk beristirahat sejenak di POS ini sambil memantau keadaan merapi. Bagi pendaki yang barangnya sudah tidak ada lagi yang ketinggalan di arahkan untuk langsung turun ke basecamp. Dari pos I, puncak merapi terlihat jelas. Letusan merapi terlihat telah berakhir. Tapi asap-asap hitam masih terlihat mengelilingi puncak merapi. Terlihat jelas pagi itu angin bertiup ke Barat. Itulah yang membuat kami terhindar dari abu saat merapi meletus.

 gambar letusan merapi terlihat dari POS I

Mengetahui merapi telah berhenti meletus, kami berembuk untuk bersiap-siap kembali mendaki mengambil barang-barang yang tertinggal di atas. Oleh karena Haerul tidak mampu lagi mendaki, seluruh isi tas ku dan Hary di oper ke tas yang dibawa Haerul. Haerul diminta turun duluan untuk memberi kabar kepada teman-teman tentang kondisi kami di merapi. Aku dan Hary mengumpulkan tenaga untuk kembali mendaki. Kebetulan disana juga ada beberapa orang pendaki yang barangnya masih tertinggal di Batu Gajah. Saat kami bersiap-siap mendaki kembali, seorang relawan SAR bernama Yuri melarang kami untuk mendaki. Kami ditunjukkan kondisi puncak merapi yang masih mengeluarkan gas yang berwarna agak keputih-putihan. Kondisi merapi masih berbahaya katanya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian masih terdengar suara gemuruh merapi dari pos I. Kami akhirnya mengurungkan niat dan menunggu kondisi merapi benar-benar normal.
 Sekitar dua jam kemudian barulah kami diizinkan untuk kembali ke Batu Gajah untuk mengambil barang-barang yang tertinggal. Tak hanya itu, Yuri juga menemani kami kembali ke atas. Jalur yang dilalui kali ini berbeda dengan jalur yang kami lalu mendaki semalam sebelumnya. Jalur ini lebih landai tetapi berada di tepi jurang. Aku berada di posisi paling belakang kali ini. Nafas mulai tidak kuat mendaki dan kaki mulai terasa pegal. Satu-satunya kekuatan untuk terus maju adalah tekad untuk menyelamatkan barang-barang yang tertinggal.
Sekitar 45 menit kemudian, tibalah kami di lokasi camp. Kami menemui barang-barang yang tadinya berada di dalam tenda telah terhambur di luar tenda. Fly sheet tenda beserta fibernya juga telah terbongkar. Sisa badan tenda yang masih terpasang. Sebungkus rokok dan beberapa makanan ringan yang bukan barang kami tergeletak di depan tenda. Tampak kantongan merah yang tadinya kupakai membungkus barang tergeletak di luar tenda. Setelah ku periksa ternyata di dalamnya ada dompetku. Alhamdulillah isinya masih lengkap. Kami lanjut memasukkan semua barang yang tersisa di dalam tas. Faktor kerapian susunan barang tidak lagi diperhatikan. Bagi kami, lebih cepat packing lebih baik.  Barang-barang yang tidak penting ditinggalkan di lokasi. Bahkan sampah-sampah tidak lagi sempat kami bersihkan.
Usai packing, kami berkumpul di satu tempat sambil menunggu rombongan lain dari merapikan barangnya. Sebelum turun gunung, Yuri meminta semua yang naik kembali mengambil barang agar berfoto bareng. Kami menyempatkan diri berfoto bersama rombongan lain berlatar merapi sebagai kenang-kenangan. Setelah selesai, kami semua akhirnya turun gunung. Kaki yang mulai lelah dan perut yang kelaparan membuat kami berjalan cukup lambat. Namun perlahan tapi pasti kami tiba di base camp dengan selamat.

gambar rombongan evakuasi barang

Setelah membersihkan diri, kami bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang kami mendapat banyak keberuntungan. Saat hendak pulang, kami beruntung bisa menumpang mobil pengangkut sayur dari pasar Selo menuju desa Klakah. Dari desa ini sudah ada omprengan menuju sawangan. Kami berniat menumpang mobil tersebut sampai mendapatkan angkot menuju Sawangan. Mobil pick up tersebut juga dilengkapi tenda sehingga saat hujan turun kami masih bisa berteduh. Bayarannya juga jauh lebih murah daripada yang ditawarkan tukang ojek. Tiba di desa Klakah, kami turun tepat di sekumpulan rombongan pendaki asal bantul Yogyakarta yang akan segera berangkat pulang ke Bantul. Beruntung kami diberi tumpangan gratis sampai di pasar Gamping dekat kediaman kami.
Perjalanan selesai, tapi cerita akan terus berlanjut. Dalam kondisi kepanikan luar biasa saat Merapi meletus, saat itu pula muncul rasa kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Tidak ada lagi tempat bergantung selainNya. Tuhan telah mengirimkan tanda-tanda kepadaku dalam wujud ilmu tentang kondisi merapi. Begitu juga dengan perasaan was-was akan meletusnya merapi. Aku mengabaikan tanda-tanda itu dan melanjutkan mendaki. Jikapun rasa abai itu datangnya dari Tuhan maka ku pikir Tuhan menginginkan ku mengabaikan tanda meletusnya merapi untuk merasakan tanda-tanda kebesarannya yang lebih dahsyat. Sekarang tinggal mensyukuri pengalaman itu, mensyukuri kesempatan untuk kembali mendengar suara-suara orang yang kusayangi. Mensyukuri kesempatan kembali tidur di kamar rumah kontrakanku. Mensyukuri kembali berkesempatan menyerap ilmu lebih banyak lagi. Alhamdulillah., Tuhan memberiku pengalaman yang penuh hikmah di Merapi.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
 
Blogger Templates